Tahun 1995 – TAHUN AKU MENERIMA PERUTUSANKU

Tahun 1995 – TAHUN AKU MENERIMA PERUTUSANKU

Sr.Assumpta,OP

“ Sr. Alexa; cobalah suster hubungi Rm. Sandyawan SJ. Satu hal yang sebetulnya baik kalau tarekat kita mulai terlibat dalam perjuangan hak-hak orang kecil seperti yang saat ini di kerjakan oleh Rm. Sandyawan, SJ. Kemudian Suster mencoba bergabung dan hidup bersama anak-anak jalanan di Jakarta. Saya ( Sr. Assumpta,OP ), merasa prihatin terhadap anak-anak kecil yang hidupnya di jalanan. Masa depan mereka masih sangat panjang. Hal ini pasti berat bagi suster, tapi suster mencoba perlahan-lahan dalam Rahmat Tuhan. Sr. Alexa,OP tidak usah berfikir apa yang harus suster perbuat, semuanya itu akan terbuka setelah suster ada di sana. Satu hal yang perlu suster perhatikan adalah : tanamkanlah kesadaran pada anak-anak yang akan suster jumpai bahwa diri mereka berharga dan yakinkanlah mereka bahwa keberadaan mereka adalah kehendak Tuhan. Tuhan menghendaki mereka ada. Hal ini hanya supaya mereka tidak putus asa dalam hidup tapi sebaliknya mereka mencintai kehidupan ini sebagai “ ANUGERAH ”.

Perutusan Dari Sr. Assumpta,OP Peimimpin Umum Suster-Suster St.Dominikus di Indonesia dengan uang sebesar Rp. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah) sebagai bekal Live in satu tahun Agustus 1995-1996) di Metropolitan Jakarta, adalah awal sebuah pergumulan. Dalam batas kemanusiaan saya, seharusnya saya berkeluh kesah memandang nominalnya, seharusnya saya pesimis melihat jumlah lembaran yang tertera di dompet, seharusnya saya protes kepada pimpinan, seharusnya saya berpustus asa, seharusnya saya mengeluh, seharusya saya uring-uringan, seharusnya saya minta tambah, seharus dan seharusnya…..
Doa dan pasrah pada Tuhan,
Namun diamku,
Tenangku,
Senyumku,
Kesabaranku,
Penerimaanku,
Damaiku,
Adalah jumlah rupiah yang terbesar yang tak pernah habis-habisanya di waktu awal hingga saat ini.
Doa dan pasrah pada Tuhan,
Diam rupiah,
Tenang rupiah,
Senyum rupiah,
Sabar rupiah,
Terima rupiah,
damai rupiah,
adalah rupiah-rupiah yang menggiurkan dan mahal harganya, mengalir dari Bank Surga memenuhi kolom-kolom dompet hatiku. Inilah nominal awal yang melandasi fundasi Yayasan Kasih Mandiri Bersinar dan Biara Karya Kasih Yesus. Dompetku hatiku selalu penuh dan meluap sampai luber, sayang dunia tidak melihatnya….tapi aku melihatnya dan menggunakannya dengan bebas.

Nominal itu selalu mencukupi makanan dan minuman bagi anak-anakku;
Aku memasak dengan kompor semangat,
menggunakan panci kesabaran,
menghidangkan di atas piring iman
Anak-anakku makan dengan menggunakan sendok cinta,
Anak-anakku minuk dengan menggunakan gelas harapan
dan meneguk air berisikan air kasih.

Aku mengajar mereka dengan contoh hidupku;
tidur di atas tikar bersama mereka,
berbantalkan koran,
mengamen dari bis satu ke bis yang lain,
salam tempel pun terjadi, lembaran-lembaran merah kumal tertulis Rp. 1000 pun menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Aku bangga punya Tuhan yang memberikanku rupiah yang istimewa sehingga aku bisa membeli hati anak-anak, para remaja dan kaum muda untuk tinggal bersamaku dan serumah denganku. Bersama mereka kami membeli banyak harta pengalaman iman yang sungguh membuatku dan membuat kami kuat berjalan di atas jalan perjuangan menuju Kanaan baru.

Rupiah-rupiah itu kini berbunga-bunga dalam Yayasan Kasih Mandiri Bersinar dan Biara Karya Kasih Yesus. Rupiah-rupiah itu kini sudah cukup bagi kami membangun istana Tuhan bagi anak-anak, para remaja dan kaum mudanya di Jakarta Metropolitan ini juga di desa-desa terpencil dengan dusun Tonggeru Donggo Bima NTB sebagai pijakan awal.

“Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.
Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
(Matius, 6:31-34)