Tahun 1996 – TAHUN AKU MENGETUK DARI PINTU KE-PINTU

Tahun 1996 – TAHUN AKU MENGETUK DARI PINTU KE-PINTU

Perjumpaanku dan pengenalanku dengan anak-anak, para remaja dan kaum muda di jalanan semakin hari semakin “Menjadikan Saya Orang Dalam”.
Saya makan apa yang mereka makan,
minum apa yang mereka minum,
barpakaian dari pakaian yang disumbangkan pada mereka,
mengajar mereka bukan sebagai guru tetapi dengan contoh hidup saya yang sederhana.

Melihat mereka sendirian, kesepian, tak punya tempat tinggal, makan minum di tempat terbuka, tidur di mana saja, dan sepanjang hari sepanjang waktu hanya kesana kemari tanpa ruang dan waktu membungkus diri mereka.
Ah…..hati saya tidak terbuat dari batu sehingga tidak merasakan apa yang mereka rasakan. Hatiku terkoyak, sakit kurasakan perih melilit di jiwaku.
Adakah keadaan ini kujadikan tontonan murahan?
Adakah tontonan ini menjadi cerita seruku di meja makan biaraku?
Adakah ceritera ini menjadi kisah terharuku di mimbar-mimbar gereja?
Adakah kisah ini menjadi analisis sosial?
Adakah analisis sosial ini menjadi judul dan sekaligus isi Skripsiku?
Adakah yang kilihat ini ini harus berakhir disini?
Seribu tanya menghiasi jiwa kecilku.
Satu hal yang pasti adalah aku harus bertindak! Sekarang! Bukan besok, bukan kalau sudah ada uang!

Akupun melangkah jauh dari mereka beberapa saat. Aku pergi mengetuk dari pintu ke pintu rumah orang-orang Jakarta. Rumah pertama, rumah kedua, rumah ketiga dan sampailah rumah ke 14. Rasa-rasanya mukaku ini tertinggal di setiap pintu-pintu rumah yang telah kuketuk di Metropolitan Jakarta ini. Pertanyaan penuh kecurigaan, tatapan mata tajam dan sinis, tertawa bernada meremehkan, harga yang melambung,bisik-bisik pada tetangga, minta uang tanda jadi, menjadi santapan di setiap pintu rumah mereka.
Tapi apalah arti dari semuanya itu….kalau saja itu semua hanyalah proses pengajaran dan penghajaran bagi saya untuk bertahan dan tetap setia dalam bmemperjuankan hak-hak anak-anak jalanan supaya harkat dan martabat mereka dihargai.
Tangis bayi-bayi tak berdosa di tepi-tepi jalanan bagaikan irama shadu musik indah mengiringi setiap langkahku.

Oh Dunia yang ketinggalan!
Kamu mau tahu apa jawabku?
Tuhan Yesus teryata menunggu di rumah yang ke-empat belas….Dahsyat!!!

Apa aku harus bilang waoh gitu????
Aku bukan anak zaman sekarang yang suka tiru istilah manusia.
Aku anak Yesus.
Maka yang ada padaku adalah Puas! Lega!
Karena Firman-Nya hidup ada hadir dan menantikanku di rumah itu.
Puas karena Firman itu sungguh hidup, Dia sungguh nyata ada.
Lega karena Dia telah menungguku di sana. Bebanku pun ringanlah sudah!
“Datanglah kepadaKu hai kamu semua yag letih lesu dan berbeban berat…Aku akan melegakan kamu….

Di rumah yang ke-empat belas Tuhan meyempurnakan pengharapanku.
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan Melepaskan kelelahanku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan Melepaskan haus dan dahagaku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan menghapus peluh keringatku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan mengangkat keletihanku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan menyediakan pengiapan
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan menghiburku hatiku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan melegakan jiwaku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan mengambil bebanku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan memeluku dan anak-anakku
Di rumah yang ke-empat belas Tuhan membuka pikiranku untuk mengerti makna ke 14 peristiwa dalam jalan Salib, bahwa jangan menyerah sebelum sampai puncak.
Yesus Engkau sungguh dahsat!!!
Mengajarku tidak di depan meja, tapi mengajarku di setiap kemauan baik dan di dalam kerja kerasku. Engkau Guru yang Hebat!
Lebih hebat lagi ketika aku harus membayar rumah kontrak pertama ini sebesar 5 juta rupiah, uangku lagi-lagi tidak cukup. Tabunganku dan anak-anakku berjumlah Rp. 3.500.000. Kekurangannya Rp. 1.500.000. Waktunya tinggal satu hari. Jalan satu-satunya yang saya buat waktu itu adalah berdoa;
Tuhan Yesus,
Rumah yang kucari berminggu-minggu sudah Kau berikan. Sekarang tibalah saatnya aku harus membayar. Hari sudah sore, besok saya harus membayar. Kalau Engkau benar-benar mau memakaiku sebagai alatMu untuk karya kasih ini, bukalah jalan bagiku untuk memperoleh dana yang masih kurang untuk membayar rumah kontrakan. Satu yang aku
minta ya Tuhan Yesus, jika Engkau mengetahui, melihat sesuatu kehendak yang kurang baik; kesombongan,pencarian diri, kepentingan keluarga, korupsi, dan penyalahgunaan kepercayaan; sekecil apapun itu aku mohon dengan sangat, hapuslah itu sekarang dari hati dan pikiranku agar aku kelak tidak binasa.
Kalau Engkau mau,
Maka aku berjanji segala resiko besar maupun kecil aku akan tanggung seorang diri dan aku akan terus berjuang sampai akhir dan masuk liang kubus sebagai seorang biarawatiMu.
Doa selesai, Tuhan datang!
Melalui tangan dua orang dari Yayasan Budha Tzu-Chi Tuhan memberikan uang sebesar Rp. 1.500.000. pas permintaanku, pas dengan kekurangannya.
Di sini doa Bapa Kami menjadi nyata “…..Berikanlah kami rejeki secukupnya untuk hari ini…”
Mujizat itu nyata!